Hidup tanpa perbedaan mungkin hambar rasanya. Entah itu perbedaan dari sudut
pandang, pemikiran atau kebiasaan. Semuanya memiliki arti dan makna
sendiri-sendiri bagi orang yang bisa memahaminya dan semuanya pasti
memiliki latar belakang dari sisi kehidupan mereka sendiri. Tidak
dipungkiri hal ini juga terjadi pada diri kita sendiri. Dimana
masyarakat akan memandang kita sebagai makhluk manusia yang memiliki
posisioning yang tidak didapat oleh orang-orang di sekitar kita.
Ketika perbedaan ini muncul, maka publik akan membuat sebuah opini
baru dan akan menimbulkan persepsi yang tidak terlelakkan. Hal ini lah
yang banyak disalahartikan bagi orang-orang di sekeliling kita. Bagi
orang-orang yang “ekstrim” (Garis Keras), mungkin saja ini merupakan
bagian dari sebuah kelompok kehidupan yang harus dipatuhi. Bagi orang
intelektual, mungkin saja ini merupakan sebuah wahana baru dalam sisi
kehidupan. Sehingga memunculkan apa yang dinamakan “Frame Of Mind”
maksudnya adalah pikiran yang telah terkotak-kotak. Jika dijabarkan
berarti mengandung makna, jika kita terjun dalam sebuah kelompok maka
kita pasti akan memandang kelompok kita lah yang paling benar ketimbang
kelompok yang lain. Fakta sudah terjadi dan fakta lah yang
membuktikannya.
Budaya dimulai dari sebuah keluarga, budaya dapat dibentuk tetapi
budaya tidak dapat dimusnahkan dan budaya sangat sulit untuk dirubah.
Negara kita termasuk negara yang bermacam-macam suku, bahasa, agama
dan budaya. Kesemuanya memiliki pemikiran dan kebiasaan yang
berbeda-beda antara yang satu dangan yang lainnya. Mengapa dalam sebuah
perbedaan selalu saja dibicarakan atau diperdebatkan. Hal ini tidak akan
menimbulkan jalan menuju damai. Malahan akan menimbulkan sebuah konflik
horisontal yang baru. Dampak yang berkepanjangan seperti ini akan
menimbulkan sebuah perpecahan dalam sebuah negara. Dimana negara akan
menjadi sebuah kerajaan yang terpisah dan tidak akan terelakkan.
Mungkin dari hati kita atau pikiran kita pasti akan menimbulkan
pertanyaan yang mungkin bagi kita sulit untuk dijawab. Bagaimana solusi
yang tepat untuk mengatasi permasalahan yang sedemikian rupa ?.
Sebenarnya solusi ini sangat mudah untuk dijawab. Kuncinya terletak pada
masalah pendidikan. Pemerataan pendidikan di sektor budaya sangatlah
tidak merata di negara kita dan terkesan dibuat-buat. Hal ini lah yang
membuat kalangan intelektual merasa kecewa terhadap kondisi seperti ini.
Dilain sisi negara kita adalah negara misikin yang ke-x. tetapi yang
lebih aneh lagi adalah mengapa kita tidak pernah untuk mengakuinya dan
membentuk sebuah sistem dan peradaban yang baru. Semuanya pasti
memerlukan waktu yang panjang dan tidak mudah. Untuk membangun peradaban
yang mengenal perbedaan memang tidak 1 atau 2 tahun. Mungkin dibutuhkan
sampai puluhan tahun bahkan ratusan tahun ke depan.
Dunia ini sangat kompleks. Tidak ada yang membuat mustahil sesuai
dengan pemikiran kita. Semua pasti dapat terealisasi, asalkan lakon
tersebut dapat menjalani sesuai dengan prosedur yang sudah disepakati.