5 Perbedaan Pria dan Wanita dalam Cinta


Sebuah situs untuk pria, AskMen.com melakukan survei untuk mengetahui "rahasia kecil" lebih dari 100.000 pria dan wanita di tahun 2010. Survei dilakukan untuk mengetahui faktor perbedaan antara sudut pandang pria dan wanita dalam hal cinta. Apa saja perbedaan tersebut ?

1. Faktor romantis
Wanita: Sebanyak 40 persen wanita mengatakan pacar atau suami mereka tidak romantis.

Pria: Sebaliknya 75 pria mengklaim dirinya cukup romantis

2. Ucapan "Aku cinta kamu"
Wanita : Lebih dari 43 persen wanita mengatakan "Aku cinta kamu" hanya sebagai balasan atas ucapan pasangannya, meskipun maksudnya bukan "cinta". Lalu sebanyak 12 persen wanita tidak mengatakan ungkapan tersebut, tetapi mereka mungkin akan mengungkapkannya untuk menjaga perasaan pasangannya.

Pria: Sebanyak 18 persen pria mengatakan "Aku cinta kamu" hanya agar wanita pasangannya mau diajak berhubungan seksual. Lalu sebanyak 20 persen, tidak pernah mengatakan bahwa yang dikatakannya adalah bohong.

3. Menangis kencang
Wanita : Sebanyak 75 persen wanita menangis setidaknya satu kali dalam satu bulan. Dengan 33 persen menangis setidaknya satu kali seminggu. Lalu 99 persen wanita percaya ketika pria menangis.

Pria : Hampir 5 persen pria tidak pernah menangis apapun alasannya. Sekitar 38 persen mengaku menangis sebagai respon sebuah tragedi, seperti kematian orang yang dicintai. Sementara 27 persen pria merasa tidak masalah untuk menangis karena emosi setiap saat. Lalu 29 persen pria mengatakan tidak masalah menangis selama tidak diketahui banyak orang.

4. Pernikahan
Wanita : Sebanyak 55 persen wanita mengatakan bahwa mereka tidak merasa sama sekali ditekan (oleh keluarga, masyarakat, teman, dll) untuk menikah. Tapi 36 persen wanita mengatakan mereka tidak akan membangun hubungan dengan seorang pria kecuali dia akan menjadi suami yang potensial.

Pria : Sekitar 33 persen pria tidak akan melanjutkan hubungan kecuali mereka merasa pasangannya akan menajdi istri yang potensial. Lebih dari 85 persen pria percaya pada institusi pernikahan.

5. Putus hubungan
Wanita: Sebanyak 27 persen wanita pernah diputuskan hubungan melalui bantuan teknologi seperti email, chatting atau sms. Lalu sebanya 16 persen wanita diputuskan hanya dengan ditinggalkan begitu saja dan tidak pernah berkomunikasi lagi.

Pria : Sebanyak 80 pria percaya bahwa memutuskan hubungan harus dilakukan dengan bertemu muka. Hanya 4 persen percaya tidak masalah jika putus melalui telepon atau teknologi lainnya seperti email, chatting atau sms.

sumber: vivanews.com
Read More...

Bisakah Menolak Jatuh Cinta?





Baru saja putus cinta, eh tiba-tiba ada sosok menarik yang dekat dengan Anda, bisakah menolak jatuh cinta?

Bisa dibilang memang cinta itu penuh misteri, kita tak bisa menebak kapan kita jatuh cinta dan kapan tepatnya kita bertemu seseorang yang membuat kita jatuh cinta.

Tak jarang pula setelah beberapa saat putus cinta, tiba-tiba ada orang baru yang masuk ke dalam hidup kita dan membuat kita merasa nyaman. Ada yang berpikir bahwa hal tersebut bisa jadi adalah pelarian semata, namun siapa sih yang bisa menolak jatuh cinta?

Ketahui benar perasaan Anda

Kenali dan tanyakan sekali lagi pada hati kecil Anda, apakah ini memang benar perasaan suka? Dan, sebenarnya bukanlah hal yang tidak mungkin bila seseorang menyukai lebih dari satu orang sekaligus. Terutama bila berkaitan dengan ketertarikan secara fisik.

Rasa suka tak bisa ditolak

Ketika Anda menyukai sesuatu, Anda tak akan bisa menolaknya. Seperti halnya saat Anda makan ice cream, Anda suka rasanya, Anda tentu tak bisa menolak kelezatannya kan?

Itu bukan pelarian

Ketahuilah bahwa jatuh cinta bukanlah sebuah pelarian, jatuh cinta lebih pada perasaan suka dan tertarik pada seseorang. Selanjutnya bisa disebut pelarian bila memang Anda memaksakan diri untuk selalu dekat dan suka padanya.

Anda bisa menolak komitmen

Saat Anda jatuh cinta pada seseorang dan merasa bahwa semua yang ada pada dia membuat Anda nyaman, Anda tak bisa menolaknya. Satu-satunya hal yang bisa Anda tolak adalah komitmen.

Jadi, mengapa Anda harus menolak untuk jatuh cinta pada seseorang? Tak ada ruginya kok Anda jatuh cinta dan merasa suka, yang harus Anda pikirkan adalah langkah yang akan Anda tempuh kemudian. Apakah akan memberikan banyak kabar baik atau malah membuat Anda atau orang lain kecewa.
Read More...

Alasan Kenapa Wanita Gampang Tersinggung

Dibandingkan dengan kaum laki-laki, kaum wanita dikenal sebagai makhluk yang mudah tersinggung, mudah mengeluh dan sering menggerutu. Apakah hal ini disebabkan karena faktor genetik?
 
 
 
Illustrasi


Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa para wanita secara genetik memang diprogram untuk bersikap mudah marah dan agresif. Hal itu antara lain karena wanita memiliki gen reseptor serotonin, yakni yang disebut gen 2C. Kabar baiknya, tidak semua wanita mewarisi gen tersebut.


Hormon serotonin memang dikaitkan dengan perasaan marah dan agresi, baik pada manusia atau hewan. Penelitian telah menunjukkan peningkatan aktivitas serotonin berkaitan dengan berkurangnya perilaku agresif.


Sikap mudah marah tersebut ternyata menjadi salah satu penanda beberapa kondisi gangguan kesehatan, salah satunya adalah hipertensi dan penyakit jantung.


Meski kerap mudah tersinggung, keras kepala, dan gampang marah, ternyata sifat-sifat tersebut dinilai sebagai bentuk kepercayaan diri dan kebanyakan dimiliki oleh orang yang berkepribadian kuat. Karena itu, orang dengan sifat keras kepala itu dianggap menarik bagi lawan jenis.


Tetapi apakah jika sudah mewarisi gen mudah marah hal itu tidak bisa diubah? Tentu saja. Karena faktor lingkungan memiliki kemampuan untuk mengendalikan, mempengaruhi, bahkan mengubah faktor genetik.
sumber:http://www.smartnewz.info/
Read More...

Shalat Aja Kok Repot!

Semua orang Muslim tentunya tahu yang namanya shalat.




 Ya, walaupun mungkin sebagian masih ada yang menjalankannya dengan bolong-bolong atau tidak sama sekali karena satu dan lain hal. Kemudahan melaksanakan ibadah yang satu ini bagi sebagian orang dianggap biasa-biasa saja, terutama mereka yang tinggal di negara mayoritas Muslim. Negara kita contohnya. Secara umum, muslim di Indonesia bisa mempraktikkan shalat dimana pun mereka berada, karena hampir di setiap sudut kampung atau kota selalu ada mesjid. Paling tidak tajug atau mushala. Gaungan adzan pun bisa terdengar kemana-mana. Sebuah ‘kemewahan’ yang tidak bisa dinikmati di negara seperti Amerika.

Saya merasakan betul hilangnya nikmat ini ketika pertama kali datang ke sebuah pedalaman di pulau Kalimantan, hilangnya nikmat ini mulai terasa ketika naik pesawat dari Bandara Adisutjipto (Yogyakarta) menuju Temindung (Samarinda). Karena sebagian orang luar jawa masih beragama non-muslim, biasanya mereka merasa tak nyaman melihat orang membaca Al-qur’an atau shalat di pesawat. Tapi ketakutan masih menghantui, karena di samping kiri ada orang asing. Alhasil, saya harus menunggu mereka tidur sebelum bisa melaksanakan shalat dengan tenang. Tentu saja, dengan TV kecil di hadapan saya yang sengaja masih menyala, agar orang menyangka saya sedang menonton. Lega rasanya ketika shalat selesai.

Permasalahan mulai kompleks ketika harus menunggu beberapa jam di bandara Temindung untuk melanjutkan penerbangan ke kota yang saya tuju. Waktu itu, sudah tiba saatnya melakukan shalat dzuhur. Dengan alasan musafir, saya bisa meringkas dan menyatukan shalat. Itu hal mudah. Tapi dimana shalatnya? Saya coba mundar-mandir dari satu terminal ke terminal lain dengan harapan bisa menemukan tempat yang lumayan sepi. Namun, namanya juga bandara internasional, mana ada tempat sepi tanpa orang. Saya pun jadi pening. Akhirnya, saya berusaha ‘nekad’ untuk shalat di kursi tunggu. Tinggal cari yang agak sepi. Ketemu juga, akhirnya. Saya duduk di kursi paling pojok yang kebetulan menghadap ke luar bandara. Shalat pun tertunaikan.

Masalah shalat ini ternyata tak kunjung usai ketika sudah tinggal beberapa hari di kota tujuan. Setelah beberapa hari istirahat karena jetlag, saya ke disdik untuk menyelesaikan urusan administrasi. Karena ternyata urusannya panjang, saya harus shalat di disdik. Sialnya, disdik kampus tempat mengurus administrasi itu berada di dalam mall. Sudah pasti banyak orang berkeliaran. Saya pun bulak-balik dari ujung utara mall ke ujung selatan untuk mencari tempat relatif sunyi. Akhirnya, ketemu juga tempat duduk dekat WC yang lokasinya agak terpisah dari keramaian. Saya simpan koran di pangkuan, agar orang yang kebetulan lewat menyangka saya sedang membaca. Shalat pun selesai.

Satu hari, di luar dugaan bus saya tunggu tak kunjung datang, padahal waktu itu saya belum shalat Asar. Dan, matahari sudah terlihat mau terbenam. Saya bergumam, “kenapa tidak di-jama saja tadi shalatnya ketika di rumah?” Seandainya bus datang tepat waktunya, saya bisa shalat dalam bus, karena relatif mudah. Tinggal duduk di pojok belakang. Urusan shalat bisa selesai. Daripada menyesali, saya pikir, lebih baik mencari solusi. Untungnya, bus stop sepi waktu itu. Saya pun memaksakan diri shalat sambil duduk, walaupun hati terus berdo’a agar tidak ada orang yang datang. Alhamdulillah, shalat selesai.

Lama-kelamaan, rasa rindu untuk shalat berdiri mulai memuncak. Rasanya tidak afdhal kalau saya harus shalat duduk terus. Keberanian dalam diri saya pun mulai terbangun.



Setelah berbagi pengalaman unik yang sedikit menegangkan dengan teman Jawa yang sudah lama di sini, dia menasihati agar saya shalat di perpus saja, biar bisa lebih tenang dan khusyu. Apalagi kan yang namanya perpus, mana ada orang ribut. Akhirnya, ketika di disdik, saya masuk ke ruang buku. Sepi memang. Dan, banyak lokasi yang bisa dijadikan tempat shalat. Setelah menemukan arah kiblat, saya mencari tempat paling pojok, yang sekiranya tidak akan banyak orang yang lalu lalang mencari buku. Di pojok timur ruangan, di samping rak, saya menggelar sejadah. Saya pikir, setelah penantian yang cukup lama, akhirnya ditemukan juga tempat shalat yang kondusif. Saya pun memulai shalat saya. Ternyata, pada raka’at ketiga, ada orang bule mendekat dan mau lewat. Dia bilang, “Excuse me! excuse me!” beberapa kali. Saya jadi kikuk dibuatnya, karena tidak mungkin saya menjawab. Saya terus melanjutkan shalat walaupun hati saya deg-degan. Akhirnya, dia pergi juga. Lega akhirnya.

Mungkin Allah kasihan melihat salah satu hambanya begitu kesulitan dan kebingungan mencari tempat untuk sekedar melepas rindu pada-Nya. Pertolongan-Nya pun datang dengan diberikannya sebuah kantor oleh jurusan kepada saya. Sekalipun sekantor dengan dua orang asing, saya jelaskan bahwa saya akan melakukan sembahyang secara rutin. Alhamdulillah, mereka sangat paham. Bahkan sebelum shalat, mereka lah yang menutupkan pintu kantor untuk saya. Kadang ketika shalat dan ada mahasiswa yang ingin menemui saya, mereka jelaskan bahwa saya sedang shalat dan meminta mahasiswa tersebut untuk kembali lagi nanti. Nikmat rasanya bisa menemukan tempat ‘khusus’ untuk shalat di Disdik. Lebih nikmat lagi sebenarnya adalah adanya wujud toleransi dari teman sekantor sekalipun mereka berbeda keyakinan.

Makanya, bagi mereka di tanah air, yang bisa melaksanakan shalat dimana-mana, bersyukurlah. Itulah salah satu nikmat Allah yang akan sangat sulit didapati di belahan bumi lain.


Read More...

Video Gallery