Semua orang Muslim tentunya tahu yang namanya shalat.


Setelah berbagi pengalaman unik yang sedikit menegangkan dengan teman Jawa yang sudah lama di sini, dia menasihati agar saya shalat di perpus saja, biar bisa lebih tenang dan khusyu. Apalagi kan yang namanya perpus, mana ada orang ribut. Akhirnya, ketika di disdik, saya masuk ke ruang buku. Sepi memang. Dan, banyak lokasi yang bisa dijadikan tempat shalat. Setelah menemukan arah kiblat, saya mencari tempat paling pojok, yang sekiranya tidak akan banyak orang yang lalu lalang mencari buku. Di pojok timur ruangan, di samping rak, saya menggelar sejadah. Saya pikir, setelah penantian yang cukup lama, akhirnya ditemukan juga tempat shalat yang kondusif. Saya pun memulai shalat saya. Ternyata, pada raka’at ketiga, ada orang bule mendekat dan mau lewat. Dia bilang, “Excuse me! excuse me!” beberapa kali. Saya jadi kikuk dibuatnya, karena tidak mungkin saya menjawab. Saya terus melanjutkan shalat walaupun hati saya deg-degan. Akhirnya, dia pergi juga. Lega akhirnya.
Mungkin Allah kasihan melihat salah satu hambanya begitu kesulitan dan kebingungan mencari tempat untuk sekedar melepas rindu pada-Nya. Pertolongan-Nya pun datang dengan diberikannya sebuah kantor oleh jurusan kepada saya. Sekalipun sekantor dengan dua orang asing, saya jelaskan bahwa saya akan melakukan sembahyang secara rutin. Alhamdulillah, mereka sangat paham. Bahkan sebelum shalat, mereka lah yang menutupkan pintu kantor untuk saya. Kadang ketika shalat dan ada mahasiswa yang ingin menemui saya, mereka jelaskan bahwa saya sedang shalat dan meminta mahasiswa tersebut untuk kembali lagi nanti. Nikmat rasanya bisa menemukan tempat ‘khusus’ untuk shalat di Disdik. Lebih nikmat lagi sebenarnya adalah adanya wujud toleransi dari teman sekantor sekalipun mereka berbeda keyakinan.
Makanya, bagi mereka di tanah air, yang bisa melaksanakan shalat dimana-mana, bersyukurlah. Itulah salah satu nikmat Allah yang akan sangat sulit didapati di belahan bumi lain.

Ya, walaupun mungkin sebagian masih ada yang menjalankannya dengan bolong-bolong atau tidak sama sekali karena satu dan lain hal. Kemudahan melaksanakan ibadah yang satu ini bagi sebagian orang dianggap biasa-biasa saja, terutama mereka yang tinggal di negara mayoritas Muslim. Negara kita contohnya. Secara umum, muslim di Indonesia bisa mempraktikkan shalat dimana pun mereka berada, karena hampir di setiap sudut kampung atau kota selalu ada mesjid. Paling tidak tajug atau mushala. Gaungan adzan pun bisa terdengar kemana-mana. Sebuah ‘kemewahan’ yang tidak bisa dinikmati di negara seperti Amerika.
Saya merasakan betul hilangnya nikmat ini ketika pertama kali datang ke sebuah pedalaman di pulau Kalimantan, hilangnya nikmat ini mulai terasa ketika naik pesawat dari Bandara Adisutjipto (Yogyakarta) menuju Temindung (Samarinda). Karena sebagian orang luar jawa masih beragama non-muslim, biasanya mereka merasa tak nyaman melihat orang membaca Al-qur’an atau shalat di pesawat. Tapi ketakutan masih menghantui, karena di samping kiri ada orang asing. Alhasil, saya harus menunggu mereka tidur sebelum bisa melaksanakan shalat dengan tenang. Tentu saja, dengan TV kecil di hadapan saya yang sengaja masih menyala, agar orang menyangka saya sedang menonton. Lega rasanya ketika shalat selesai.
Permasalahan mulai kompleks ketika harus menunggu beberapa jam di bandara Temindung untuk melanjutkan penerbangan ke kota yang saya tuju. Waktu itu, sudah tiba saatnya melakukan shalat dzuhur. Dengan alasan musafir, saya bisa meringkas dan menyatukan shalat. Itu hal mudah. Tapi dimana shalatnya? Saya coba mundar-mandir dari satu terminal ke terminal lain dengan harapan bisa menemukan tempat yang lumayan sepi. Namun, namanya juga bandara internasional, mana ada tempat sepi tanpa orang. Saya pun jadi pening. Akhirnya, saya berusaha ‘nekad’ untuk shalat di kursi tunggu. Tinggal cari yang agak sepi. Ketemu juga, akhirnya. Saya duduk di kursi paling pojok yang kebetulan menghadap ke luar bandara. Shalat pun tertunaikan.
Masalah shalat ini ternyata tak kunjung usai ketika sudah tinggal beberapa hari di kota tujuan. Setelah beberapa hari istirahat karena jetlag, saya ke disdik untuk menyelesaikan urusan administrasi. Karena ternyata urusannya panjang, saya harus shalat di disdik. Sialnya, disdik kampus tempat mengurus administrasi itu berada di dalam mall. Sudah pasti banyak orang berkeliaran. Saya pun bulak-balik dari ujung utara mall ke ujung selatan untuk mencari tempat relatif sunyi. Akhirnya, ketemu juga tempat duduk dekat WC yang lokasinya agak terpisah dari keramaian. Saya simpan koran di pangkuan, agar orang yang kebetulan lewat menyangka saya sedang membaca. Shalat pun selesai.
Satu hari, di luar dugaan bus saya tunggu tak kunjung datang, padahal waktu itu saya belum shalat Asar. Dan, matahari sudah terlihat mau terbenam. Saya bergumam, “kenapa tidak di-jama saja tadi shalatnya ketika di rumah?” Seandainya bus datang tepat waktunya, saya bisa shalat dalam bus, karena relatif mudah. Tinggal duduk di pojok belakang. Urusan shalat bisa selesai. Daripada menyesali, saya pikir, lebih baik mencari solusi. Untungnya, bus stop sepi waktu itu. Saya pun memaksakan diri shalat sambil duduk, walaupun hati terus berdo’a agar tidak ada orang yang datang. Alhamdulillah, shalat selesai.
Lama-kelamaan, rasa rindu untuk shalat berdiri mulai memuncak. Rasanya tidak afdhal kalau saya harus shalat duduk terus. Keberanian dalam diri saya pun mulai terbangun.
Saya merasakan betul hilangnya nikmat ini ketika pertama kali datang ke sebuah pedalaman di pulau Kalimantan, hilangnya nikmat ini mulai terasa ketika naik pesawat dari Bandara Adisutjipto (Yogyakarta) menuju Temindung (Samarinda). Karena sebagian orang luar jawa masih beragama non-muslim, biasanya mereka merasa tak nyaman melihat orang membaca Al-qur’an atau shalat di pesawat. Tapi ketakutan masih menghantui, karena di samping kiri ada orang asing. Alhasil, saya harus menunggu mereka tidur sebelum bisa melaksanakan shalat dengan tenang. Tentu saja, dengan TV kecil di hadapan saya yang sengaja masih menyala, agar orang menyangka saya sedang menonton. Lega rasanya ketika shalat selesai.
Permasalahan mulai kompleks ketika harus menunggu beberapa jam di bandara Temindung untuk melanjutkan penerbangan ke kota yang saya tuju. Waktu itu, sudah tiba saatnya melakukan shalat dzuhur. Dengan alasan musafir, saya bisa meringkas dan menyatukan shalat. Itu hal mudah. Tapi dimana shalatnya? Saya coba mundar-mandir dari satu terminal ke terminal lain dengan harapan bisa menemukan tempat yang lumayan sepi. Namun, namanya juga bandara internasional, mana ada tempat sepi tanpa orang. Saya pun jadi pening. Akhirnya, saya berusaha ‘nekad’ untuk shalat di kursi tunggu. Tinggal cari yang agak sepi. Ketemu juga, akhirnya. Saya duduk di kursi paling pojok yang kebetulan menghadap ke luar bandara. Shalat pun tertunaikan.
Masalah shalat ini ternyata tak kunjung usai ketika sudah tinggal beberapa hari di kota tujuan. Setelah beberapa hari istirahat karena jetlag, saya ke disdik untuk menyelesaikan urusan administrasi. Karena ternyata urusannya panjang, saya harus shalat di disdik. Sialnya, disdik kampus tempat mengurus administrasi itu berada di dalam mall. Sudah pasti banyak orang berkeliaran. Saya pun bulak-balik dari ujung utara mall ke ujung selatan untuk mencari tempat relatif sunyi. Akhirnya, ketemu juga tempat duduk dekat WC yang lokasinya agak terpisah dari keramaian. Saya simpan koran di pangkuan, agar orang yang kebetulan lewat menyangka saya sedang membaca. Shalat pun selesai.
Satu hari, di luar dugaan bus saya tunggu tak kunjung datang, padahal waktu itu saya belum shalat Asar. Dan, matahari sudah terlihat mau terbenam. Saya bergumam, “kenapa tidak di-jama saja tadi shalatnya ketika di rumah?” Seandainya bus datang tepat waktunya, saya bisa shalat dalam bus, karena relatif mudah. Tinggal duduk di pojok belakang. Urusan shalat bisa selesai. Daripada menyesali, saya pikir, lebih baik mencari solusi. Untungnya, bus stop sepi waktu itu. Saya pun memaksakan diri shalat sambil duduk, walaupun hati terus berdo’a agar tidak ada orang yang datang. Alhamdulillah, shalat selesai.
Lama-kelamaan, rasa rindu untuk shalat berdiri mulai memuncak. Rasanya tidak afdhal kalau saya harus shalat duduk terus. Keberanian dalam diri saya pun mulai terbangun.
Setelah berbagi pengalaman unik yang sedikit menegangkan dengan teman Jawa yang sudah lama di sini, dia menasihati agar saya shalat di perpus saja, biar bisa lebih tenang dan khusyu. Apalagi kan yang namanya perpus, mana ada orang ribut. Akhirnya, ketika di disdik, saya masuk ke ruang buku. Sepi memang. Dan, banyak lokasi yang bisa dijadikan tempat shalat. Setelah menemukan arah kiblat, saya mencari tempat paling pojok, yang sekiranya tidak akan banyak orang yang lalu lalang mencari buku. Di pojok timur ruangan, di samping rak, saya menggelar sejadah. Saya pikir, setelah penantian yang cukup lama, akhirnya ditemukan juga tempat shalat yang kondusif. Saya pun memulai shalat saya. Ternyata, pada raka’at ketiga, ada orang bule mendekat dan mau lewat. Dia bilang, “Excuse me! excuse me!” beberapa kali. Saya jadi kikuk dibuatnya, karena tidak mungkin saya menjawab. Saya terus melanjutkan shalat walaupun hati saya deg-degan. Akhirnya, dia pergi juga. Lega akhirnya.
Mungkin Allah kasihan melihat salah satu hambanya begitu kesulitan dan kebingungan mencari tempat untuk sekedar melepas rindu pada-Nya. Pertolongan-Nya pun datang dengan diberikannya sebuah kantor oleh jurusan kepada saya. Sekalipun sekantor dengan dua orang asing, saya jelaskan bahwa saya akan melakukan sembahyang secara rutin. Alhamdulillah, mereka sangat paham. Bahkan sebelum shalat, mereka lah yang menutupkan pintu kantor untuk saya. Kadang ketika shalat dan ada mahasiswa yang ingin menemui saya, mereka jelaskan bahwa saya sedang shalat dan meminta mahasiswa tersebut untuk kembali lagi nanti. Nikmat rasanya bisa menemukan tempat ‘khusus’ untuk shalat di Disdik. Lebih nikmat lagi sebenarnya adalah adanya wujud toleransi dari teman sekantor sekalipun mereka berbeda keyakinan.
Makanya, bagi mereka di tanah air, yang bisa melaksanakan shalat dimana-mana, bersyukurlah. Itulah salah satu nikmat Allah yang akan sangat sulit didapati di belahan bumi lain.

0 Pendapat:
Posting Komentar
Masukan anda sangat berharga untuk kami