Perbedaan itu tidak mesti menjadi perselisihan atau pertengkaran karena perbedaan bisa juga membentuk keindahan dan kesempurnaan.
Tuhan itu maha-sempurna dan maha-pencipta. Dalam penciptaanNya ia membuat keanekaragaman yang indah dan menawan. Bisakah anda bayangkan ada suatu komposisi lagu yang isinya hanya satu nada saja dari awal hingga akhir. Pasti bunyinya seperti nada sibuk sebuah telepon tut.......tut........tut.......tut........tut........tut.........tut....... sangat membosankan dan memusingkan kepala. Lagu itu hanya akan berbentuk lagu apabila ia terdiri dari nada-nada yang beragam. Bisakah anda bayangkan ada satu bahasa yang terdiri dari satu kata saja dan tidak ada kata lainnya yang jumlahnya jutaan. Jangan pula tanya tentang frasa atau wacana karena iitu sangat musykil adanya.
Bisakah anda bayangkan wajah anda sama dengan wajah tetangga (pasti anda geli membayangkannya!). Dan isteri anda mirip sekali dengan isteri tetangga dan susah dibedakan mana isteri anda dan mana isteri tetangga anda, karena keduanya sama sekali tidak memiliki perbedaan. Anda adalah anda, karena anda memiliki karakter pembeda dari orang lain. Dan orang lain adalah orang lain dan bukan anda, karena mungkin mereka tidak seganteng dan segagah anda walaupun kecerdasannya bisa saja melebihi anda.
Tidak. Tidak mungkin kehidupan itu ada, tanpa adanya keanekaragaman. Perbedaan itu perlu. Perbedaan itu suatu keniscayaan. Perbedaan itu indah. Perbedaan itu sesuatu yang perlu disyukuri. Karena perbedaanlah bapak kita jatuh cinta pada ibu kita karena ibu kita berbeda dengan ibu-ibu yang lainnya. Ibu kita lebih cantik dan lebih baik hati. Karena perbedaan itulah bapak kita memilih ibu kita dan lahirlah kita. Anda ada karena mereka yang berbeda dengan anda ada bersama anda; tanpa adanya mereka maka keberadaan anda menjadi tiada guna, juga keberadaan mereka.
Saya ingat sebuah cerita yang saya dengar dari ustadz saya. Syahdan, pada suatu ketika ada seekor burung pipit kecil (sudah burung pipit, kecil lagi!) yang terbang melintasi lautan luas. Di tengah-tengah lautan itu ia menukik ke bawah menyiuk air laut dengan paruhnya yang sangat kecil. Setelah itu, air yang ada di paruhnya itu ia bawa melintasi samudera, lalu daratan, pepohonan dan lain-lain hingga akhirnya sampai ke sebuah tempat dimana Nabi Ibrahim (as.) sedang dijilati oleh lautan api yang berkobar.
Si burung pipit itu kemudian menyiramkan air yang ada di paruhnya itu. Hingga setetes tentu saja! Dan burung lainnya yang ada di sekitar tempat kejadian itu tertawa terbahak-bahak demi melihat si pipit menyiramkan air yang hanya setetes itu. Mereka berkata, 'wahai pipit yang malang! Mana mungkin kamu bisa memadamkan api yang sedang membakar Ibrahim itu. Kamu ini melakukan suatu perbuatan sia-sia saja'. Si pipit tadi kemudian menjawab, 'Memang benar kalian, wahai burung-burung yang gagah dan besar. Aku tak mungkin bisa memadamkan api itu. Itu terlalu besar bagiku. Tapi aku ingin nanti Tuhan bisa mengenaliku sebagai makhluk yang mencintai kekasihnya, Ibrahim. Aku ingin dicatat sebagai makhluk yang turut membantu memadamkan api yang melahap Ibrahim kekasih Tuhan, walau pekerjaan itu hanya kecil dan hampir tak berarti".
Saya ingin seperti burung pipit itu. Walaupun mungkin pekerjaan saya kecil dan tak berarti. Tapi saya ingin nanti Tuhan mengenali saya sebagai orang yang mencintai perbedaan yang telah diciptakanNya. Saya ingin dikenali sebagai orang yang mensyukuri perbedaan yang telah ditakdirkanNya".
Tuhan itu maha-sempurna dan maha-pencipta. Dalam penciptaanNya ia membuat keanekaragaman yang indah dan menawan. Bisakah anda bayangkan ada suatu komposisi lagu yang isinya hanya satu nada saja dari awal hingga akhir. Pasti bunyinya seperti nada sibuk sebuah telepon tut.......tut........tut.......tut........tut........tut.........tut....... sangat membosankan dan memusingkan kepala. Lagu itu hanya akan berbentuk lagu apabila ia terdiri dari nada-nada yang beragam. Bisakah anda bayangkan ada satu bahasa yang terdiri dari satu kata saja dan tidak ada kata lainnya yang jumlahnya jutaan. Jangan pula tanya tentang frasa atau wacana karena iitu sangat musykil adanya.
Bisakah anda bayangkan wajah anda sama dengan wajah tetangga (pasti anda geli membayangkannya!). Dan isteri anda mirip sekali dengan isteri tetangga dan susah dibedakan mana isteri anda dan mana isteri tetangga anda, karena keduanya sama sekali tidak memiliki perbedaan. Anda adalah anda, karena anda memiliki karakter pembeda dari orang lain. Dan orang lain adalah orang lain dan bukan anda, karena mungkin mereka tidak seganteng dan segagah anda walaupun kecerdasannya bisa saja melebihi anda.
Tidak. Tidak mungkin kehidupan itu ada, tanpa adanya keanekaragaman. Perbedaan itu perlu. Perbedaan itu suatu keniscayaan. Perbedaan itu indah. Perbedaan itu sesuatu yang perlu disyukuri. Karena perbedaanlah bapak kita jatuh cinta pada ibu kita karena ibu kita berbeda dengan ibu-ibu yang lainnya. Ibu kita lebih cantik dan lebih baik hati. Karena perbedaan itulah bapak kita memilih ibu kita dan lahirlah kita. Anda ada karena mereka yang berbeda dengan anda ada bersama anda; tanpa adanya mereka maka keberadaan anda menjadi tiada guna, juga keberadaan mereka.
Saya ingat sebuah cerita yang saya dengar dari ustadz saya. Syahdan, pada suatu ketika ada seekor burung pipit kecil (sudah burung pipit, kecil lagi!) yang terbang melintasi lautan luas. Di tengah-tengah lautan itu ia menukik ke bawah menyiuk air laut dengan paruhnya yang sangat kecil. Setelah itu, air yang ada di paruhnya itu ia bawa melintasi samudera, lalu daratan, pepohonan dan lain-lain hingga akhirnya sampai ke sebuah tempat dimana Nabi Ibrahim (as.) sedang dijilati oleh lautan api yang berkobar.
Si burung pipit itu kemudian menyiramkan air yang ada di paruhnya itu. Hingga setetes tentu saja! Dan burung lainnya yang ada di sekitar tempat kejadian itu tertawa terbahak-bahak demi melihat si pipit menyiramkan air yang hanya setetes itu. Mereka berkata, 'wahai pipit yang malang! Mana mungkin kamu bisa memadamkan api yang sedang membakar Ibrahim itu. Kamu ini melakukan suatu perbuatan sia-sia saja'. Si pipit tadi kemudian menjawab, 'Memang benar kalian, wahai burung-burung yang gagah dan besar. Aku tak mungkin bisa memadamkan api itu. Itu terlalu besar bagiku. Tapi aku ingin nanti Tuhan bisa mengenaliku sebagai makhluk yang mencintai kekasihnya, Ibrahim. Aku ingin dicatat sebagai makhluk yang turut membantu memadamkan api yang melahap Ibrahim kekasih Tuhan, walau pekerjaan itu hanya kecil dan hampir tak berarti".
Saya ingin seperti burung pipit itu. Walaupun mungkin pekerjaan saya kecil dan tak berarti. Tapi saya ingin nanti Tuhan mengenali saya sebagai orang yang mencintai perbedaan yang telah diciptakanNya. Saya ingin dikenali sebagai orang yang mensyukuri perbedaan yang telah ditakdirkanNya".

0 Pendapat:
Posting Komentar
Masukan anda sangat berharga untuk kami