Perempuan dan Jilbab ( Simbol Agama atau hanya topeng belaka ? )

Malem2 gini emang paling enak bgopi sambil chat bareng temen2 lama,sambil ngobrol ngalor ngidul,ga karuan,tapi ada juga obrolan yang buat saya jadi rada mikir,soalnya ada sangkut pautnya dengan fenomena yang sekarang lagi jadi trand,yaitu perempuan dan jilbab.

JILBAB  telah menjadi fenomena busana perempuan dalam keseharian masyarakat yang mayoritas beragama Islam. Tradisi berjilbab ”terlepas dari pro kontra” pada awal kemunculannya dianggap menjadi penanda dan penegas identias keberagamaan seorang perempuan.

Namun, fenomena jilbab kini kembali kehilangan identitas saat sejumlah perempuan yang berurusan dengan hukum tiba-tiba tampil religius: mendadak tampil mengenakan jilbab dan pakaian tertutup. Benarkah jilbab menjadi simbol agama atau hanya topeng belaka?

Beberapa perempuan yang mendadak mengenakan jilbab saat berurusan dengan hukum antara lain Malinda Dee. Terdakwa kasus penggelapan dana nasabah Citibank ini mendadak mengenakan jilbab setelah ditangkap karena dugaan penggelapan dana nasabah. Sebelumnya, perempuan yang ditengarai merugikan nasabah Rp 16 miliar ini tak sungkan memamerkan rambut panjang dan mengenakan pakaian yang agak terbuka.

Kemudian Dharnawati, perempuan yang menjabat Kuasa Direksi PT Alam Jaya Papua ini setelah ditangkap KPK karena dugaan suap di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans), mendadak tampil beda dengan mengenakan jilbab, jubah panjang, dan bercadar. Sama halnya dengan Imas Dianasari. Perempuan yang menjabat hakim ad hock Pengadilan Hubungan Industri (PHI) Bandung ini mendadak mengubah penampilan setelah menjadi tersangka dugaan uang suap Rp 200 juta dari Manajer PT Onamba, Odi Juanda. Imas tampil dengan jilbab, padahal sebelumnya Imas selalu memimpin persidangan tanpa jilbab.

Di kalangan artis, kita menyaksikan Luna Maya dan Cut Tari mendadak tampil beda saat menjalani pemeriksaan di kepolisian terkait video asusila yang melilit mereka dengan penyanyi kondang Nazril Ilham alias Ariel Peterpan. Pakaian seksi yang biasa akrab ditubuh mereka mendadak berganti dengan pakaian tertutup dan jilbab di kepala.
Fenomena terbaru dari pradoks jilbab adalah kasus Nunun Nurbaetie. Saat ditangkap di Thailand dan dibawa pulang ke Indonesia oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), perempuan yang terlibat kasus cek pelawat pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, mengenakan jilbab dan masker.
Simbol dan Virtual

Bagi sebagian perempuan, jilbab tak lagi menjadi simbol religius. Alih-alih untuk menjalankan syariah Islam, jilbab kini digunakan untuk menyembunyikan wajah dari sorot mata publik.

Quraish Shihab (2010) dalam Jilbab, Pakaian Wanita Muslimah, mengulas faktor yang mendukung tersebarnya fenomena jilbab. Shihab menganalisis bahwa ada perempuan-perempuan yang memakai jilbab tetapi apa yang diapakainya tidak sejalan dengan tuntunan agama dan budaya masyarakat.
Pada titik ini, jilbab tak lagi menjadi simbol keberagamaan, melainkan telah merambah ke mana-mana. Fenomena inilah yang disebut oleh Kris Budiman dalam Semiotika Visual, Konsep, Isu, dan Problem Ikonisitas (2011) dengan ’’kebohongan visual’’.

Jilbab tidak hanya berfungsi sebagai simbol identitas religius, tetapi telah memasuki ranah-ranah budaya, sosial, politik, ekonomi, dan bahkan gaya-modis.
Dalam konteks ini, jilbab menjadi medan interpretasi yang penuh makna. Pesan yang muncul bukanlah kesadaran penegasan identitas keberagamaan, tetapi lebih pada kebohongan visual yang mampu bernegosiasi dengan ruang dan waktu.

Karena itu, Fadwa El Guindi dalam Jilbab: Antara Kesalehan, Kesopanan, dan Perlawanan (2003), menganggap bahwa kecenderungan kehidupan modern, perjalanan jilbab dari identitas yang bersifat keagamaan merambah ke berbagai identitas lain hingga mengandung pergeseran yang menyimpan banyak persoalan di dalamnya. Pada satu sisi ada upaya untuk menjadikan tradisi jilbab sebagai penegasan identitas yang homogen, dan di sisi lain ada yang melihat berjilbab sebagai praktik sosial yang di dalamnya ada proses produksi serta reproduksi makna, yang akhirnya menyebabkan sebuah hubungan dialektis di antara peristiwa diskursif tertentu dengan situasi, institusi dan struktur sosial yang membentuknya. (Fadwa El Guindi : 2003)

Pada wilayah inilah sebenarnya telah terjadi pergeseran makna dalam berjilbab. Ada yang menarik sebagai identitas religius, tradisi, ideologi, dan juga sebagai simbol resistensi kultural.

Negosiasi lewat media massa dan juga teknologi industri, telah membuat jilbab tampil dalam pusaran ruang publik dan visual yang lebih longgar. Dalam konsep semiotika visual, kevalidan makna visual dapat diuji melalui beberapa aspek. Kajian ini tidak hanya dilihat dari segi makna suatu tanda, juga bukan sekadar mempelajari simbol, namun lebih cenderung pada kajian relasi tanda-tanda.
Sama halnya dengan perempuan yang mendadak berjilbab hanya karena tersandung hukum. Mereka menjadikan jilbab sebagai topeng belaka. Jilbab yang semestinya menjadi tanda kesalehan telah kehilangan makna. (24)

Terimakasih buat Wildani Hefni ( pengelola Rumah Baca Pesantren Mahasiswa Darun Najah IAIN Walisongo Semarang ) yang udah mau berbagi pikiranya,semoga artikel ini bermanfaat bagi yang baca.
Amien.


0 Pendapat:

Posting Komentar

Masukan anda sangat berharga untuk kami

Video Gallery

Entri populer